Rabu, 11 April 2012

AUTISME (Askep Jiwa)


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Autisme sebuah sindrom gangguan perkembangan sistem syaraf pusat yang ditemukan pada sejumlah anak ketika masa kanak – kanak hingga masa – masa sesudahnya. Ironisnya, sindrom tersebut membuat anak – anak yang menyandangnya tidak mampu menjalin hubungan sosial secara normal bahkan tidak mampu untuk menjalin komunikasi dua arah (Wijayakusuma, 2004)
Varian symptom yang dimiliki oleh setiap anak dengan sindrom autisme berbeda – beda. Ada varian symptom yang ringan dan ada juga yang berat. Akan tetapi, secara umum dapat dispesifikasikan kedalam tiga hal yang mencakup kondisi mental, kemampuan berbahasa serta usia si anak.
Sebagai sindrom, autisme dapat disandang oleh seluruh anak dari berbagai tingkat sosial dan kultur. Hasil survai yang diambil dari beberapa negara menunjukan bahwa 2 – 4 anak per 10.000 anak berpeluang menyandang austime dengan rasio perbandingan 3 : 1 untuk anak laki – laki dan perempuan. Dengan kata lain, anak laki – laki lebih rentan menyandang sindrom autisma dibandingkan anak perempuan. Bahkan diprediksikan oleh para ahli bahwa kuantitas anak autisme pada tahun 2010 akan mencapai 60 % dari keseluruhan populasi anak di seluruh dunia.
Survei menunjukkan, anak-anak autisme lahir dari ibu-ibu kalangan ekonomi menengah keatas. Ketika dikandung asupan gizi ke ibunya tidak seimbang.
Sejak autisme mulai dapat dijabarkan dan dikenal mendunia, berbagai jenis penyembuhan telah dilakuan. Beberapa implementasi penyembuhan tersebut bukan hanya bersifat psikis, tetapi juga fisik, mental, emosional hingga fisiologis. Tetapi penyembuhan yang diterapkanpun dilakukan dengan berbagai varian teknik, diantaranya teknik belajar dan bermain yang dapat dilakukan secara verbal maupun non verbal.
Dari beberapa jenis terapi yang telah diimplementasikan secara meluas, ada yang melibatkan peran serta orang tua dan ada juga yang tidak. Ada yang dapat dilakukan sendiri oleh orang tua dirumah dan ada juga terapi yang memerlukan bantuan sejumlah ahli atau terapis. Inti dari sejumlah terapi tersebut dimaksudkan untuk mengeliminir berbagai symptom yang diperlihatkan oleh seorang anak autisme yang tentunya dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkatan sindrom yang disandang anak.
Yang terpenting, terapi yang diberikan kepada setiap anak autisme hendaknya tetap melibatkan peran serta orang tua secara aktif. Tujuannya agar setiap orang tua merasa memiliki andil atas kemajuan yang dicapai anak autisma mereka dalam setiap fase terapi. Dengan kata lain, orang tua tidak hanya memasrahkan perbaikan anak autisme kepada para ahli atau terapis tetapi juga turut menentukan tingkat perbaikan yang perlu dicapai oleh sianak. Dengan demikian, akan terbentuk suatu ikatan emosional yang lebih kuat antara orang tua dengan anak autismenya dan hal ini diharapkan akan mendukung perkembangan emosional dan mental si anak menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Yang melatar belakangi pembuatan askep yang berjudul autisme yaitu adanya penugasan dari dosen mata kuliah keperawatan jiwa dan keingintahuan kami mengenai konsep dasar dan askep autisme itu sendiri.

1.2  Runusan Masalah
1.      Apakah definisi dari autisme ?
2.      Ada berapa pengelompokan autisme ?
3.      Bagaiman etiologi autisme ?
4.      bagaimana karakteristik autisme ?
5.      Bagaimana penatalaksanaan autisme ?
6.      bagaimana askep autisme ?



1.3 Tujuan Penulisan
1.      Tujuan umum
            Pembaca dapat memahami mengenai konsep dasar dan askep autisme.
2.      Tujuan khusus
Setelah membaca askep ini, pembaca mampu :
·         Menjelaskan definisi dari autisme
·         Menjelaskan pengelompokan autisme
·         Menjelaskan penatalaksanaan autisme
·         Menjelaskan karakteristik autisme
·         Menjelaskan etiologi autisme
·         Menjelaskan askep autisme











BAB II
KONSEP TEORI

2.1  Definisi
Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif. (Baron-Cohen, 1993).
Autisme masa kanak-kanak dini adalah penarikan diri dan kehilangan kontak dengan realitas atau orang lain. Pada bayi tidak terlihat tanda dan gejala. (Sacharin, R, M, 1996 : 305)
Autisme adalah sebuah sindrom gangguan perkembangan sistem syaraf pusat yang ditemukan pada sejumlah anak ketika masa kanak – kanak hingga masa – masa sesudahnya. Ironisnya, sindrom tersebut membuat anak – anak yang menyandangnya tidak mampu menjalin hubungan social secara normal bahkan tidak mampu untuk menjalin komunikasi dua arah (Wijayakusuma, 2004)
2.2  Pengelompokan Autisme
Dr. Faisal Yatim mengelompokan autisme menjadi 3 kelompok, yaitu :
1.      Autisme Persepsi
Autisme ini dianggap sebagai autisme asli dan disebut autisme internal karena kelainan sudah timbul sebelum lahir.
2.      Autisme Reaksi
Autisme ini biasanya mulai terlihat pada anak – anak usia lebih besar (6 – 7 tahun) sebelum anak memasuki memasuki tahap berfikir logis. Tetapi bisa juga terjadi sejak usia minggu – minggu pertama. Penderita autisme reaktif ini bisa membuat gerakan – gerakan tertentu berulang – ulang dan kadang – kadang disertai kejang – kejang.
3.      Autisme yang Timbul Kemudian
Faisal Yatim pun memberikan tip – tip untuk mengelola penderita anak autisme, berikut ini :
o    Menentukan terlebih dulu masalah penyimpangan perilaku dan perilaku yang mana kira – kira yang perlu ditingkatkan
o    Menentukan berapa seringnya penyimpangan perilaku tersebut
o    Menentukan apa faktor pencetus timbulnya penyimpangan perilaku tersbut
o    Menentukan perubahan mana yang perlu untuk meningkatkan atau mengurangi penyimpangan perilaku
o    Meyakinkan dan mengusahakan agar semua pihak yang terlibat ikut peduli dengan program tersebut
o    Memeriksa dan mengusahakan agar semua program yang direncanakan bisa berjalan dengan konsisten
o    Mengadakan penilaian program secara teratur dan jangan terlalu mengharapkan hasilnya dalam waktu singkat
o    Mengadakan modifikasi atau menghentikan program setelah hasil yang anda harapkan tercapai, ingat, beberapa jenis kelainan perilaku tidak mudah untuk diubah. Salah seorang ahli manganjurkan 3 bulan setelah program dilaksanakan baru dilakukan penilaian apakah berhasil atau gagal
o    Memberikan permainan rutin dan tetep merupakan jenis pengobatan bagi anak autisme, yang bisa mengurangi kecemasan dan meningkatkan rasa aman dalam dunianya
o    Bergaul akrab dengan penderita, menuntun dalam berjalan, misalnya waktu berekreasi juga dianjurkan oleh para professional. Pengobatan secara psikologi dan bermain termasuk yang dianjurkan.


2.3  Etiologidan Patofisiologi
                        Danuatmaja (2003) menyebutkan beberapa hal yang diduga menjadi faktor penyebab terjadinya autisme, yaitu antara lain:
a.      Gangguan Susunan Saraf Pusat        
Ditemukan kelainan neuroanatomi (anatomi susunan saraf pusat) pada beberapa tempat didalam otak anak autis. Banyak anak autis mengalami pengecilan otak kecil, terutama pada lobus VI-VII. Seharusnya, dilobus VI-VII banyak terdapat sel purkinje. Namun, pada anak autis jumlah sel purkinje sangat kurang. Akibatnya, produksi serotonin kurang, menyebabkan kacaunya proses penyaluran informasi antar-otak. Selain itu, ditemukan kelainan struktur pada pusat emosi di dalam otak sehingga emosi anak autis sering terganggu. Penemuan ini membantu dokter menentukan obat yang lebih tepat. Obat-obatan yang banyak dipakai adalah dari jenis psikotropika yang bekerja pada susunan saraf pusat. Hasilnya menggembirakan karena dengan mengkonsumsi obat-obatan ini pelaksanaan terapi lainnya lebih mudah. Anak lebih mudah untuk diajak bekerja sama.
a.       Gangguan Sistem Pencernaan
            Ada hubungan gangguan pencernaan dengan gejala autis. Tahun 1997, seorang pasien autis, Parker Beck, mengeluhkan gangguan pencernaan yang sangat buruk. Ternyata, ia kekurangan enzim sekretin. Setelah mendapat suntikan sekretin, Beck sembuh dan mengalami kemajuan yang luar biasa (Budhiman, 2002). Kasus ini memicu penelitian-penelitian selanjutnya pada gangguan metabolism pencernaan.
b.    Peradangan Dinding Usus       
Berdasarkan pemeriksaan endoskopi atau peneropongan usus pada sejumlah anak autis yang memiliki pencernaan buruk ditemukan adanya peradangan usus pada sebagian besar anak (Budhiman, 2002). Dr. Andrew ahli pencernaan asal Inggris, menduga peradangan tersebut disebabkan virus, mungkin virus campak. Itu sebabnya, banyak orangtua yang kemudian menolak imunisasi MMR (measles, mumps, rubella) karena diduga menjadi biang keladi autis pada anak. Temuan Wakefield diperkuat sejumlah riset ahli medis lainnya.

            Namun teori ini hingga sekarang masih kontroversial mengenai vaksinasi MMR yang diberikan pada usia 15 bulan, juga teori penggunaan antibiotik, stres, merkuri dan berbagai toksin yang ada di lingkungan. Tetapi semua mungkin hanya merupakan pemicu saja, yang bias terjadi pada anak yang sudah mempunyai riwayat genetik. Di antara berbagai teori tersebut, teori yang berhubungan dengan diet sampai sekarang masih ramai dibicarakan (Sari, 2009).

a.       Faktor genetika.
Ditemukan 20 gen yang terkait dengan autisme. Namun, gejala autisme baru muncul jika terjadi kombinasi banyak gen. bias saja autisme tidak muncul, meski anak membawa gen autisme. Jadi perlu faktor pemicu lain.Hasil penelitian terhadap keluarga dan anak kembar menunjukkan adanya faktor genetik yang berperan dalam perkembangan autisme. Pada anak kembar satu telur ditemukan sekitar 36 – 89 %, sedang pada anak kembar dua telur 0 %. Pada penelitian terhadap keluarga ditemukan 2,5 – 3 % autisme pada saudara kandung, yang berarti 50 - 100 kali lebih tinggi dibandingkan pada populasi normal (Masra, 2002)
b.      Keracunan logam berat.   
Berdasarkan tes laboratorium yang dilakukan pada rambut dan darah ditemukan kandungan logam berat dan beracun pada banyak anak autis. Diduga, kemampuan sekresi logam berat dari tubuh terganggu secara genetik. Penelitian selanjutnya menemukan logam berat seperti arsenik (As), antimoni (Sb), kadmium (Cd), raksa (Hg), dan timbal (Pb) adalah racun otak yang sangat kuat. Tahun 2000, Sallie Bernard, ibu dari anak autis, menunjukan penelitiannya, gejala yang diperlihatkan anak-anak autis sama dengan keracunan merkuri. Dugaan ini diperkuat dengan membaiknya gejala autis setelah anak-anak mlakukan terapi kelasi (merkuri dikeluarkan dari otak dan tubuh mereka) (Budhiman, 2002)
c.       Alergi.
 Beberapa penelitian menunjukkan keluhan autisme dipengaruhi dan diperberat oleh banyak hal, salah satunya karena manifestasi alergi. Dari penelitian yang pernah dilakukan, dilaporkan bahwa autisme berkaitan erat dengan alergi (Judarwanto, 2004).

     Penelitian lain menyebutkan setelah dilakukan eliminasi makanan beberapa gejala autisme tampak membaik secara bermakna. Hal ini dapat juga dibuktikan dalam beberapa penelitian yang menunjukkan adanya perbaikan gejala pada anak autisme yang menderita alergi, setelah dilakukan penanganan eliminasi diet alergi. Beberapa laporan lain mengatakan bahwa gejala autisme semakin memburuk bila manifestasi alergi muncul (Judarwanto, 2004).
a.       Teori disfungsi metabolik. Amino phenolik banyak ditemukan di berbagai makanan, dan dilaporkan  bahwa komponen utamanya dapat menyebabkan terjadinya gangguan tingkah laku pada pasien autis. Makanan yang mengandung amino phenolic itu adalah : terigu (gandum), jagung, gula, coklat, pisang, apel. Sebuah publikasi dari Lembaga Psikiatri Biologi menemukan bahwa anak autis mempunyai kapasitas rendah untuk menggunakan berbagai komponen sulfat sehingga anak-anak tersebut tidak mampu memetabolisme komponen amino phenolic. Komponen amino phenolic merupakan bahan baku pembentukan neurotransmiter; jika komponen tersebut tidak dimetabolisme baik akan terjadi akumulasi katekolamin yang toksik bagi saraf.
b.      Teori infeksi kandida.Ditemukan beberapa Strain candida di saluran pencernaan dalam jumlah sangat  banyak saat menggunakan antibiotik yang nantinya akan menyebabkan terganggunya flora normal anak. Laporan menyebutkan bahwa infeksi Candida albicans berat bisa dijumpai pada anak yang banyak mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung yeast dan karbohidrat, karena pada makanan tersebut Candida dapat tumbuh subur. Makanan jenis ini dilaporkan menyebabkan anak menjadi autis. Penelitian sebelumnya menemukan adanya hubungan antara beratnya infeksi Candida albicans dengan gejala-gejala menyerupai autis, seperti gangguan berbahasa, gangguan tingkah laku dan penurunan kontak mata. (Adams and Conn, 1997). Tetapi Dr Bernard Rimland, seorang peneliti terkemuka di bidang autis, mengatakan bahwa sampai sekarang hubungan antara keduanya kemungkinannya masih sangat kecil.
c.       Teori kelebihan opiod dan hubungan gluten dan protein kasein. Teori ini mengatakan bahwa pencernaan anak autis terhadap kasein dan gluten tidak sempurna. Kedua protein ini hanya terpecah sampai polipeptida. Polipeptida dari kedua protein tersebut terserap ke dalam aliran darah dan menimbulkan efek morfin di otak anak. Di membran saluran cerna kebanyakan pasien autis ditemukan pori-pori yang tidak lazim, yang diikuti dengan masuknya peptida ke dalam darah. Hasil metabolisme gluten adalah protein gliadin. Gliadin akan berikatan dengan reseptor opioid C dan D. Reseptor tersebut berhubungan dengan mood dan tingkah laku. Diet sangat ketat bebas gluten dan kasein menurunkan kadar peptida opioid serta dapat mempengaruhi gejala autis pada beberapa anak. Dengan demikian implementasi diet merupakan terobosan yang baik untuk memperoleh kesembuhan pasien.

       Protein gluten terdapat pada terigu, sereal, gandum yang biasa dipakai dalam pembuatan bir serta gandum hitam sedangkan protein kasein ditemukan mempunyai aktivitas opiod saat protein tidak dapat dipecah.
Dari penelitian Whiteley, Rodgers, Savery dan Shattock (1999), 22 anak autis mendapat diet bebas gluten selama 5 bulan dibandingkan dengan 5 anak autis yang tetap diberi diet mengandung gluten dan 6 pasien autis yang digunakan sebagai kelompok kontrol. Setelah 3 bulan, pada diet bebas gluten terjadi perbaikan verbal dan komunikasi non verbal, pendekatan afektif, motorik, dan kemampuan anak untuk perhatian serta tidur jadi lebih baik. Sedangkan pada kelompok makanan yang masih mengandung gluten justru semuanya memburuk. Meskipun penelitian ini masih menggunakan jumlah pasien yang sangat kecil, tapi cukup bisa diterima sampai sekarang.
Pentingnya penanganan diet pada pasien autis tak kalah pentingnya dari farmakoterapi dan fisioterapi, untuk itulah masalah alergi makanan pada anak dengan gangguan spektrum autisme harus dilakukan secara holistik. 

1.      Epidemiologi

Prevalensi atau peluang timbulnya penyakit autisme semakin tinggi. Dua puluh tahun yang lalu hanya 2 sekitar 1 dari 10.000 anak kena autis. Lima tahun yang lalu 1 dari 1000, satu tahun yang lalu 1 dari 166 anak, dan saat ini 1 dari 150 anak atau setiap tahun timbul sekitar 9000 anak autis baru (Dwinoto, 2008).Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta, hingga saat ini belum diketahui persis jumlah anak autis namun diperkirakan dapat mencapai 150 -200 ribu orang. Perbandingan laki dan perempuan 4 : 1, namun pasien anak perempuan akan menunjukkan gejala yang lebih berat.Sebagai sindrom, autisme dapat disandang oleh semua anak dari berbagai tingkat sosial dan kultur. Hasil survai dari beberapa Negara menunjukkan bahwa 2 - 4 anak per 10.000 anak berpeluang menyandang autis dengan rasio 3 : 1 untuk anak laki-laki dan perempuan; anak laki-laki lebih rentan menyandang sindrom autisme dibandingkan anak perempuan (Sari, 2009).Anak laki-laki memiliki hormon testosteron yang mempunyai efek yang bertolak belakang dengan hormon estrogen pada perempuan, hormon testosteron menghambat kerja RORA (retinoic acid-related orphan receptor-alpha) yang berfungsi mengatur fungsi otak, sedangkan estrogen meningkatkan kinerja RORA (Darmawan, 2009).
2.      Gejala
Secara umum ada beberapa gejala autisme, yang akan tampak semakin jelas saat anak mencapai usia 3 tahun, yaitu:
a.       Gangguan dalam komunikasi verbal maupun non verbal seperti terhambat bicara, mengeluarkan kata-kata dalam bahasanya sendiri yang tidak dapat dimengerti, echolalia, dan ssering meniru dan mengulang kata tanpa ia mengerti maknanya.
b.      Gangguan dalam interaksi sosial, seperti menghindar kontak mata, tidak melihat jika dipanggil, menolak untuk dipeluk, dan lebih suka bermain sendiri.
c.       Gangguan pada bidang perilakuyang terlihat dan adanya perilaku yang berlebih (excesive) dan kekurangan (deficient), seperti impulsive, hiperaktif, repetitive, namun dilain waktu terkesan pandangan yang sama dan monoton. Kadang-kadang ada kelekatan pada benda tertentu, seperti gambar, karet, dan lain-lain, yang dibawanya kemana-mana.
d.      Gangguan pada bidang perasaan/emosi, seperti kurangnya empati, simpati dan toleransi. Kadang-kadang tertawa dan marah sendiri tanpa sebab yang nyata dan sering mengamuk tanpa kendali bila tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.
e.       Gangguan dalam persepsi sensoris seperti mencium-cium dan menggigit mainan atau benda, bila mendengar suara tertentu langsung menutup telinga, tidak menyukai rabaan dan pelukan, dan seterusnya.
Gejala-gejala tersebut di atas tidak harus ada semua pada setiap anak autisme, tergantung dari berat ringannya gangguan yang diderita anak (Wardhani, 2008)
a.       Harus ada sedikitnya 6 gejala dari (1), (2) dan (3) dengan minimal 2 gejala dari (1) dan masing-masing satu gejala dari (2) dan (3)
1)      Gangguan kualitatif dalam interaksi social yang timbal balik. Minimal harus ada dua gejala dari gejala – gejala dibawah ini:
a)      Tak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai: kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak gerik kurang tertuju.
b)      Tak bias bermain dengan teman sebaya.
c)      Tak ada empati
d)     Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal balik.
2)      Gangguan kuantitatif dalam bidang komunikasi, minimal harus ada satu gejala dari gejala dibawah ini :
a)      Perkembangan bicara terlambat atau sama sekali tak berkembang. Anak tidak berusaha untuk berkomunikasi secara non-verbal
b)      Bila anak bicara maka bicaranya tidak dipakai untuk komunikasi
c)      Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang
d)     Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif dan kurang dapat meniru.
3)      Adanya suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam prilaku, minat dan kegiatan, minimal harus ada satu gejala dari gejala dibawah ini :
a)      Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang khas dan berlebihan
b)      Terpaku pada satu kegiatan yang ritualistic atau rutinitas yang tak ada gunanya
c)      Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang
d)     Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda
b.      Sebelum umur 3 tahun tampak adanya keterlambatan atau gangguan dalam bidang:
a). Interaksi sosial
b). bicara dan berbahasa
c). cara bermain yang monoton dan kurang variatif
c.       Bukan disebabkan oleh Rett Syndrome atau gangguan Disintegrasi Masa Kanak


 
Handojo (2008) menyebutkan dari kelainan anatomis dan fungsi dari bagian otak, maka timbulah gejala yang dapat kita amati. Baik ICD – 10 1993 (International Classification of Diseases) dari WHO maupun DSM – IV (Diagnostic and Statistical Manual) 1995, dari grup Psikiatri Amerika, keduanya menetapkan kriteria yang sama untuk autisme anak.
Tabel 1. Kriteria DSM – IV untuk Autisme Masa Kanak



Sumber: APA (American Psychiatry Association), 1995
, 1995
 

 

2.4  Karakteristik
Beberapa atau keseluruhan karakteristik yang disebutkan berikut ini dapat diamati pada para penyandang autisme beserta spektrumnya baik dengan kondisi yang teringan hingga terberat sekalipun.
1.      Hambatan dalam komunikasi, misal: berbicara dan memahami bahasa.
2.      Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain atau obyek di sekitarnya serta menghubungkan peristiwa-peristiwa yang terjadi.
3.      Bermain dengan mainan atau benda-benda lain secara tidak wajar.
4.      Sulit menerima perubahan pada rutinitas dan lingkungan yang dikenali.
5.      Gerakkan tubuh yang berulang-ulang atau adanya pola-pola perilaku yang tertentu
Para penyandang Autisme beserta spektrumnya sangat beragam baik dalam kemampuan yang dimiliki, tingkat intelegensi, dan bahkan perilakunya. Beberapa diantaranya ada yang tidak 'berbicara' sedangkan beberapa lainnya mungkin terbatas bahasanya sehingga sering ditemukan mengulang-ulang kata atau kalimat (echolalia). Mereka yang memiliki kemampuan bahasa yang tinggi umumnya menggunakan tema-tema yang terbatas dan sulit memahami konsep-konsep yang abstrak. Dengan demikian, selalu terdapat individualitas yang unik dari individu-individu penyandangnya.
Terlepas dari berbagai karakteristik di atas, terdapat arahan dan pedoman bagi para orang tua dan para praktisi untuk lebih waspasa dan peduli terhadap gejala-gejala yang terlihat. The National Institute of Child Health and Human Development (NICHD) di Amerika Serikat menyebutkan 5 jenis perilaku yang harus diwaspadai dan perlunya evaluasi lebih lanjut :
1.      Anak tidak bergumam hingga usia 12 bulan
2.      Anak tidak memperlihatkan kemampuan gestural (menunjuk, dada, menggenggam) hingga usia 12 bulan
3.      Anak tidak mengucapkan sepatah kata pun hingga usia 16 bulan
4.      Anak tidak mampu menggunakan dua kalimat secara spontan di usia 24 bulan
5.      Anak kehilangan kemampuan berbahasa dan interaksi sosial pada usia tertentu
Adanya kelima ‘lampu merah’ di atas tidak berarti bahwa anak tersebut menyandang autisme tetapi karena karakteristik gangguan autisme yang sangat beragam maka seorang anak harus mendapatkan evaluasi secara multidisipliner yang dapat meliputi; Neurolog, Psikolog, Pediatric, Terapi Wicara, Paedagog dan profesi lainnya yang memahami persoalan autisme.

2.5Cara Mengetahui Autisme pada Anak Sejak Dini
Anak mengalami autisme dapat dilihat dengan:
a.       Orang tua harus mengetahui tahap-tahap perkembangan normal.
b.      Orang tua harus mengetahui tanda-tanda autisme pada anak.
c.       Observasi orang tua, pengasuh, guru tentang perilaku anak dirumah, diteka, saat bermain, pada saat berinteraksi sosial dalam kondisi normal.
Tanda autis berbeda pada setiap interval umumnya.
a.       Pada usia 6 bulan sampai 2 tahun anak tidak mau dipeluk atau menjadi tegang bila diangkat ,cuek menghadapi orangtuanya, tidak bersemangat dalam permainan sederhana (ciluk baa atau kiss bye), anak tidak berupaya menggunakan kat-kata. Orang tua perlu waspada bila anak tidak tertarik pada boneka atau binatan gmainan untuk bayi, menolak makanan keras atau tidak mau mengunyah, apabila anak terlihat tertarik pada kedua tangannya sendiri.
b.      Pada usia 2-3 tahun dengan gejal suka mencium atau menjilati benda-benda, disertai kontak mata yang terbatas, menganggap orang lain sebagai benda atau alat, menolak untuk dipeluk, menjadi tegang atau sebaliknya tubuh menjadi lemas, serta relatif cuek menghadapi kedua orang tuanya.
c.       Pada usia 4-5 tahun ditandai dengan keluhan orang tua bahwa anak merasa sangat terganggu bila terjadi rutin pada kegiatan sehari-hari. Bila anak akhirnya mau berbicara, tidak jarang bersifat ecolalia (mengulang-ulang apa yang diucapkan orang lain segera atau setelah beberapa lama), dan anak tidak jarang menunjukkan nada suara yang aneh, (biasanya bernada tinggi dan monoton), kontak mata terbatas (walaupun dapat diperbaiki), tantrum dan agresi berkelanjutan tetapi bisa juga berkurang, melukai dan merangsang diri sendiri.
2.6  Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis yang ditemuai pada penderita Autisme :
a.       Penarikan diri, Kemampuan komunukasi verbal (berbicara) dan non verbal yang tidak atau kurang berkembang mereka tidak tuli karena dapat menirukan lagu-lagu dan istilah yang didengarnya, serta kurangnya sosialisasi mempersulit estimasi potensi intelektual kelainan pola bicara, gangguan kemampuan mempertahankan percakapan, permainan sosial abnormal, tidak adanya empati dan ketidakmampuan berteman. Dalam tes non verbal yang memiliki kemampuan bicara cukup bagus namun masih dipengaruhi, dapat memperagakan kapasitas intelektual yang memadai. Anak austik mungkin terisolasi, berbakat luar biasa, analog dengan bakat orang dewasa terpelajar yang idiot dan menghabiskan waktu untuk bermain sendiri.
b.      Gerakan tubuh stereotipik, kebutuhan kesamaan yang mencolok, minat yang sempit, keasyikan dengan bagian-bagian tubuh.
c.       Anak biasa duduk pada waktu lama sibuk pada tangannya, menatap pada objek. Kesibukannya dengan objek berlanjut dan mencolok saat dewasa dimana anak tercenggang dengan objek mekanik.
d.      Perilaku ritualistik dan konvulsif tercermin pada kebutuhan anak untuk memelihara lingkungan yang tetap (tidak menyukai perubahan), anak menjadi terikat dan tidak bisa dipisahkan dari suatu objek, dan dapat diramalkan .
e.       Ledakan marah menyertai gangguan secara rutin.
f.       Kontak mata minimal atau tidak ada.
g.      Pengamatan visual terhadap gerakan jari dan tangan, pengunyahan benda, dan menggosok permukaan menunjukkan penguatan kesadaran dan sensitivitas terhadap rangsangan, sedangkan hilangnya respon terhadap nyeri dan kurangnya respon terkejut terhadap suara keras yang mendadak menunjukan menurunnya sensitivitas pada rangsangan lain.
h.      Keterbatasan kognitif, pada tipe defisit pemrosesan kognitif tampak pada emosional
i.        Menunjukan echolalia (mengulangi suatu ungkapan atau kata secara tepat) saat berbicara, pembalikan kata ganti pronomial, berpuisi yang tidak berujung pangkal, bentuk bahasa aneh lainnya berbentuk menonjol. Anak umumnya mampu untuk berbicara pada sekitar umur yang biasa, kehilangan kecakapan pada umur 2 tahun.
j.        Intelegensi dengan uji psikologi konvensional termasuk dalam retardasi secara fungsional.
k.      Sikap dan gerakan yang tidak biasa seperti mengepakan tangan dan mengedipkan mata, wajah yang menyeringai, melompat, berjalan berjalan berjingkat-jingkat.
Ciri yang khas pada anak yang austik :
a.       Defisit keteraturan verbal.
b.      Abstraksi, memori rutin dan pertukaran verbal timbal balik.
c.       Kekurangan teori berfikir (defisit pemahaman yang dirasakan atau dipikirkan orang lain).
Menurut Baron dan kohen 1994 ciri utama anak autisme adalah:
a.       Interaksi sosial dan perkembangan sossial yang abnormal.
b.      Tidak terjadi perkembangan komunikasi yang normal.
c.       Minat serta perilakunya terbatas, terpaku, diulang-ulang, tidak fleksibel dan tidak imajinatif.Ketiga-tiganya muncul bersama sebelum usia 3 tahun.

2.7  Penatalaksanaan Autisme

1.      Terapi Perilaku

Terapi perilaku yang dikenal di seluruh dunia adalah Applied Behavioral Analysis yang diciptakan oleh O.Ivar Lovaas PhD dari University of California Los Angeles (UCLA) (Rudy, 2007). Dalam terapi perilaku, fokus penanganan terletak pada pemberian reinforcement positif setiap kali anak berespons benar sesuai instruksi yang diberikan. Tidak ada hukuman (punishment) dalam terapi ini, akan tetapi bila anak berespons negatif (salah/tidak tepat) atau tidak berespons sama sekali maka ia tidak mendapatkan reinforcement positif yang ia sukai tersebut. Perlakuan ini diharapkan meningkatkan kemungkinan anak untuk berespons positif dan mengurangi kemungkinan ia berespons negatif (atau tidak berespons) terhadap instruksi yang diberikan (Muhardi, 2009). Dalam suatu penelitian dikatakan dengan terapi yang intensif  selama 1-2 tahun, anak yang masih muda ini dapat berhasil meningkatkan IQ dan fungsi adaptasinya lebih tinggi dibanding kelompok anak yang tidak memperoleh terapi intensif. Bahkan pada akhir terapi sekitar 42% dapat masuk ke sekolah umum (Gamayanti, 2003). Menurut Sutadi (2003), walaupun tidak bisa disembuhkan 100 persen, autis dapat dilatih melalui terapi sedini mungkin sehingga ia bisa tumbuh normal. Alasannya karena hasil penatalaksanaan terapi setelah usia lima tahun akan berjalan lebih lambat.

2.      Terapi Biomedik

Terapi biomedik merupakan penanganan secara biomedis melalui perbaikan metabolism tubuh serta pemberian obat-obatan oleh dokter yang berwenang, vitamin dan obat yang dianjurkan adalah vitamin B6, risperidone, dll (Veskarisyanti, 2008). Sedangkan menurut Handojo (2008), obat- obatan yang dipakai terutama untuk penyandang autisme, sifatnya sangat individual dan perlu berhati-hati. Dosis dan jenisnya sebaiknya diserahkan kepada Dokter Spesialis yang memahami dan mempelajari autisme (biasanya Dokter Spesialis Jiwa Anak). Baik obat maupun vitamin hendaknya diberikan secara sangat berhati-hati, karena baik obat maupun vitamin dapat memberikan yang tidak diinginkan. Vitamin banyak dicampurkan pada nutrisi khusus, karena itu telitilah lebih dahulu sebelum membeli dan memberikannya kepada penyandang autisme. Terapi biomedik tidak menggantikan terapiterapi yang telah ada, seperti terapi perilaku, wicara, okupasi dan integrasi sensoris. Terapi biomedik melengkapi terapi yang telah ada dengan memperbaiki “dari dalam”. Dengan demikian diharapkan bahwa perbaikan akan lebih cepat terjadi (Muhardi, 2009).

3.      Terapi Integrasi Sensori

Integrasi sensoris berarti kemampuan untuk mengolah dan mengartikan seluruh rangsang sensoris yang diterima dari tubuh maupun lingkungan, dan kemudian menghasilkan respons yang terarah.
Disfungsi dari integrasi sensoris atau disebut juga disintegrasi sensoris berarti ketidak mampuan untuk mengolah rangsang sensoris yang diterima. Gejala adanya disintegrasi sensoris bisa tampak dari : pengendalian sikap tubuh, motorik halus, dan motorik kasar. Adanya gangguan dalam ketrampilan persepsi , kognitif, psikososial, dan mengolah rangsang. Namun semua gejala ini ada juga pada anak dengan diagnosa yang berbeda (Handojo, 2008).

4.      Terapi Okupasi

Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerakgeriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot otot halusnya dengan benar (Muhardi, 2009).

5.      Psikoterapi

Psikoterapi merupakan terapi khusus bagi anak autisme yang dalam pelaksanaannya harus meibatkan peran aktif dari orang tua. Psikoterapi menggunakan teknik bermain kreatif verbal dan non verbal yang memungkinkan orang tua lebih mendekatkan diri kepada anak autisme mereka dan lebih mengenal lagi berbagai kondisi anak secara mendetail guna membantu proses penyembuhan anak.

6.      Terapi Diet

a.       Diet bebas gluten dan bebas kasein. Pada umumnya, orangtua mulai dengan diet tanpa gluten dan kasein, yang berarti menghindari makanan dan minuman yang mengandung gluten dan kasein. Gluten adalah protein yang secara alami terdapat dalam keluarga “rumput” seperti gandung/terigu, havermuth/oat, dan barley. Gluten memberi kekuatan dan kekenyalan pada tepung terigu dan tepung bahan sejenis. Sedangkan jenis bahan makanan sumber kasein adalah susu sapi segar (mengandung 80% kasein), susu skim, tepung susu, dan produk olahan susu seperti, keju, mentega, margarine, krim, yoghurt, es krim (Hariyadi, 2009).
Meskipun masih kontroversial namun teori adanya kelainan peptida di otak yaitu ditemukannya gliodorphin dan casomorphin, adanya zat tersebut pada penderita dapat dideteksi dengan pemeriksaan tes peptida urin dimana ditemukan zat sejenis opioid yang merupakan hasil pencernaan yang tidak sempurna dari gluten dan kasein (Prabaningrum & Wardhani, 2008). Hal ini yang mendasari diet bebas gluten dan kasein bagi penyandang autisme karena gluten dan kasein dapat menjadi racun / toksik bila dikonsumsi (Veskarisyanti, 2008). Pada orang sehat, mengonsumsi gluten dan kasein tidak akan menyebabkan masalah yang serius/memicu timbulnya gejala. Pada umumnya, diet ini tidak sulit dilaksanakan karena makanan pokok orang Indonesia adalah nasi yang tidak mengandung gluten. Perbaikan/penurunan gejala autisme dengan diet khusus biasanya dapat dilihat dalam waktu antara 13 minggu. Menghindari makanan sumber gluten dan kasein meningkatkan perbaikan 65% anak autis. Apabila setelah beberapa bulan menjalankan diet tersebut tidak ada kemajuan, berarti diet tersebut tidak cocok dan anak dapat diberi makanan seperti sebelumnya (Muhardi, 2009). Hasil penelitian oleh Ishak (2008), menyebutkan bahwa terdapat pengaruh pemberian diet terhadap perkembangan anak autisme. Sedangkan menurut Hyman (2010), tidak ada efek khusus pada perkembangan prilaku dengan terapi diet bebas gluten dan kasein dikatakan juga diet gluten dan casein tidak berkaitan dengan sifat agresif penderita autisme dan kinerja usus mereka, dikarenakan banyak faktor yang mempengaruhinya, sehingga harus diketahui terapi mana yang paling sesuai dan efektif pada masing-masing anak. Didalam penelitan Hyman (2010), responden penelitian tidak mengalami perubahan dalam pola aktivitas dan frekuensi tidur. Anak-anak menunjukkan peningkatan kecil dalam sosial, bahasa dan minat setelah diberikan terapi  gluten dan kasein dan diukur gejala yang timbul dengan Ritvo Freeman Real Life Rating Scale namun tidak mencapai signifikansi statistik
b.      Diet bebas zat aditif. Zat aditif terdiri dari  pewarna, penambah rasa sintetis, aspartam, nitrat pada makanan, dan pestisida yang mungkin ada dalam makanan dapat memperparah keadaan anak autis (Hariyadi, 2009). Contoh bahan makanan yang mengandung zat aditif adalah sosis, kornet, chicken nugget dan lain-lain. Beberapa zat pewarna merusak DNA yang menyebabkan mutasi genetik. Sedangkan zat penambah rasa seperti MSG dapat mempengaruhi saraf otak (Sunartini, 2003).
c.       Diet bebas fenol dan salisilat. Sejak The Feingold Diet (salah satu jenis pengaturan pola makan) diperkenalkan banyak orang melihat bahwa salisilat mempunyai efek buruk bagi penyandang autisme. Bahan makanan yang harus dihindari adalah almond, apel, tomat, mangga muda dan alpokat. Efek yang dimungkinkan dari bahan makanan yang mengandung salisilat dapat memperberat kebocoran usus (Budhiman, 2002). Diet bebas fenol dimaksudkan untuk menghindari jenis bahan makanan yang memerlukan ion sulfat untuk metabolisme karena dapat memperburuk sistem pencernaan. Khusus bagi anak autisme, bahan makanan ini berupa jus apel, jus jeruk, coklat, dan anggur merah (Hariyadi, 2009).
d.      Pemberian suplemen makanan. Selain pengaturan pola makan, disarankan juga untuk mengkonsumsi berbagai suplemen bagi anak autisme. Suplemen-suplemen tersebut adalah vitamin C, mineral Zn, enzim, melatonin (semacam hormone untuk memperbaiki jam biologis tubuh) dan kalsium (Budhiman, 2002).









BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
1.      Identitas pasien
2.      data subyektif dan obyektif
a.       Kegagalan untuk membentuk hubungan antar pribadi, dicirikan oleh sifat tidak responsif pada orang; kurangnya kontak mata dan sifat responsif pada wajah, pengabaian atau keengganan terhadapa kasih sayang dan kontak fisik. Pada awal masa kanak-kanak, ada kegagalan untuk mengembangkan kerjasama dalam bermain dan persahabatan.
b.      kelainan pada komunikasi (verbal dan non verbal), dicirikan oleh tidak adanya bahasa atau jika dikembangkan, sering adanya struktur gramatik yang tidak matang, penggunaan kata-kata yang tidak benar, ekolalia atau ketidakmampuan untuk menggunakan batasan-batasan abstrak. Ekspresi non verbal yang menyertai bisa menjadi tidak sesuai atau tidak ada.
c.       Respon-respon kacau terhadap lingkungan, dicirikan oleh perlawanan atau reaksi-reaksi perilaku yang ekstrem terhadap peristiwa-peristiwa kecil, kasih sayang yang mengganggu pikiran yang tidak normal terhadap benda-benda aneh, perilaku - perilaku yang ritualisitik.
d.      Rasa tertari yang ekstrem terhadap benda-benda yang bergerak (mis, kipas angin, kereta api). Minat khusus terhadap musik, bermain-main dengan air, kancing atau bagian dari tubuh.
e.       Tuntutan yang tidak beralasan terhadap keharusan untuk mengikuti kebiasaan sehari-hari dengan rincian yang tepat (Misalnya : menuntut keharusan untuk selalu mengikuti rute yang sama apabila pergi berbelanja).
f.       Kesusahan yang terlihat terhadap perubahan-perubahan pada aspek-aspek yang sepele dari lingkungan (misalnya : Apabila vas bunga dipindahkan dari tempat biasanya).
g.      Gerakan-gerakan tubuh stereotip (Misalnya : menjetik - jentikan tangan atau memilin - milin tangan, berputar - putar, gerakan seluruh tubuh yang kompleks).
3.      pemeriksaan penunjang :
Darah, urine dan faeces u/ mengetahui :
·         Gangguan pencernaan
·         Jamur/parasit / bakteri di dalam usus
·         Alergi makanan
·         Peptide / morphin dalam urine
·         Kelainan genetik
·         Kerusakan sel & pembuluh darah otak
·         auto imunitas
·         Mineral & logam berat (Pb, Cad, Hg, As, Ai)
3.2 Diagnosa dan Intervensi Keperawatan Umum
No.
Diagnosa keperawatan
Tujuan dan kriteria hasil
Intervensi
Rasional
1.
Kerusakan Interaksi Sosial Berhubungan Dengan Gangguan konsep diri

Tujuan:
Jangka pendek
Pasien akan mendemonstrasikan kepercayaan pada seorang pemberi perawatan
Jangka panjang
Pasien akan memulai interaksi-interaksi sosial (fisik, verbal, nonverbal) dengan pemberi perawatan saat pulang
Kriteria hasil :
·         Menunjukan partisipasi bermain ( 4 )
·         Menunjukan keterampilan interaksi sosial ( 3 )
·         Menunjukan perkembangan anak(3)
·         Menunjukan keterlibatan sosial(3)


·         Kaji pola interaksi antara pasien dan orang lain



·         Berikan informasi tentang sumber-sumber dikomunitas





·         Berikan anak benda-benda yang dikenal (misalnya mainan kesukaan



·         Sampaikan sikap yang hangat,dukungan,dan kebersediaan ketika pasien berusaha untuk memenuhi kbutuhan-kebutuhandasarnya.

·         Muai dengan penguatan yang positif pada kontak mata ,perkenalkan secara berangsung-angsur dengan sentuhan,pelukan .
·         Mengetahui pola interaksi agar dapat memberikan intervensi yang tepat

·         Membantu pasien atau meningkatkan interaksi sosial setelah pemulangan

·         Benda-benda ini memberikan rasa aman dalam waktu-waktu aman bila anak merasa distres



·         Karakteristik-karakteristik ini meningkatkan pembentukan dan mempertahankan hubungan saling mempercayai

·         Pasien autistik dapat merasa terancam oleh suatu rangsangan yang gencar pada pasien tidak terbiasa
2.
Kerusakan komunkasi verbal berhubungan dengan Stimulasi sensorik yang tidak sesuai

Tujuan :
Jangka pendek
Pasien akan membentuk kepercayaan dengan seoran pemberi perawatan
Jangka panjang
Pasien telah membuat cara-cara untuk mengkomunikasikan (secara verbal dan non verbal ) kebutuhan-kebutuhan dan keinginan – keinginan kepada staf dengan pelaksanaan
Kriteria hasil :
·         Pasien dapat menunjukan kemampuan komunikasi (3)

·         Kaji dan dokumentasikan tentang pasien menyangkut komunikasi

·         Instruksikan kepada pasien dn keluarga tentang penggunaan alat bantu bicara


·         Gunakan posisi berhadapan ,bertatapan,untuk menyampaikan ekspresi-ekspresi non verbal yang benar

·         Berikan perawatan dalam sikap yang rileks tidak terburu-buru,dan tidak menghakimi.
·         Mengetahui komunikasi yang digunakan oleh pasien


·         Memudahkan pasien untuk menyampaikan komunikasinya


·         Kontak mata mengekspresikan minat yang murni terhadap dan hormat kepada seseorang



·         Memahami tindakan dan komunikasi pasien serta dapat melakukan perawatan secara efktif
3.
gangguan indentitas pribadi berhubungan dengan Stimulasi sensorik yang tidak sesuai
Tujuan :
Jangka pendek
Pasien akan menyebutkan bagian-bagian tubuh diri sendiri dan bagian-bagian tubuh dari pemberi perawatan
Jangka panjang
Pasien akan membentuk identitas ego ( ditunjukan oleh kemampuan  untuk mengenali fisik dan emosi diri terpisah dari orang lain ) saat pulang.
Kriteria hasil :
·         Menunjukan identitas dengan mengungkapkan penguatan identitas pribadi (3)
·         Bantu anak dalam menyebutkan bagian-bagian tubuhnya





·         Tingkatkan kontak fisik secara tahap demi tahap menggunakan sntuhan sampai kepercayaan anak telah terbentuk

·         Beritahu orang tua tentang pentingnya perhatian dan dukungan mereka terhadap konsep diri yang positif pada perkembangan anaknya
·         Kegiatan ini dapat meningkatkan kewaspadaan anak terhadap diri sebagai sesuatu yang terpisah dari orang lain

·         Agar tidak dapat diinterprestasikan sebagai suatu ancaman oleh pasien



·         Dapat meningkatkan pencapaian harga diri
4.
Resiko tinggi terhadap mutilasi diri berhubungan dengan reaksi-reaksi yang histeris terhadap perubahan-perubahan pada lingkungan

Tujuan:
Sasaran Jangka Pendek
Pasien tampak tenang, mendemonstrasikan perilaku - perilaku alternatif (misalnya : memulai interaksi antara diri dengan perawat) sebagai respon terhadap kecemasan.
Sasaran Jangka Panjang
Pasien tidak akan melukai diri
Kriteria Hasil :
Menunjukan penahanan mutilasi diri dengan mencari bantuan ketika ingin merasa mecederai diri ,tidak membawa peralatan untuk mencederai diri




·         Kaji respon pasien terhadap lingkungan untuk menentukan jika ada stresor yang dapat menyebabkan tindakan mencederai diri


·         Tindakan untuk melindungi anak apabila perilaku-perilaku mutilatif diri, seperti mamukul-mukul/membentur-benturkan kepala atau perilaku-perilaku histeris lainnya menjadi nyata


·         Gunakan alat-alat protektif untuk mencegah tindakan mencederai diri



















·         Bekerja pada dasar satu perawat untuk satu anak
·         Tawarkan diri kepada anak selama waktu-waktu meningkatnya ansietas
·         Mengurangi terjadinya tindakan mencederai diri

·         Perawat bertanggung jawab untuk menjamin keselamatan pasien




·         melindungi terhadap tindakan memukul-mukul kepala, sarung tangan untuk mencegah menarik-narik rambut, dan pemberian bantalan yang sesuai untuk melindungi ekstremitas terluka selama terjadinya gerakan-gerakan histeris.
·         Untuk membentuk kepercayaan
·         Dapat menurunkan kebutuhan pada perilaku-prilaku mutilasi diri dan memberikan rasa aman



BAB IV
KESIMPULAN
4.1Kesimpulan
Autisme adalah anak yang mengalami gangguan berkomunikasi dan berinteraksi social serta mengalami gangguan sensoris,pola bermain dan emosi. Penyebabnya karena antar jaringan otak tidak sinkron. Ada yang maju pesat, sedangkan yang lainnya biasa-biasa saja. Penyebab autisme sangat kompleks, tak lepas dari factor genetika dan lingkungan social.
Terapi penyembuhan yang diterapkan dilakukan dengan berbagai varian tehnik, diantaranya tehnik belajar dan bermain yang dapat dilakukan secara vebal maupun non verbal, dengan melibatkan orang tua dan ada juga yang tidak.
Inti dari sejumlah terapi tersebut dimaksudkan untuk mengeliminir berbagai symptom yang diperlihatkan oleh seorang anak autisme yang tentunya dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkatan sindrom yang disandang anak.
Autisme masa kanak kanak adalah gangguan perkembangan yg sangat kompleks. Prevalensi masih sedang meningkat dgn pesat, Timbulnya gejala seringkali dicetuskan oleh penyebab organ biologis. Para Profesional harus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan supaya dapat bekerja samamelakukan pengobatan yg tepat dan terpadu.






DAFTAR PUSTAKA
·         Sacharin, r.m.1996. Prinsip Keperawatan Pediatrik Edisi 2. EGC: Jakarta


·         Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. 1985. Ilmu kesehatan anak volume 3. FKUI : Jakarta.


·         Mary. C.T. 1998. Buku saku diagnosa keperawatan pada keperawatan psikiatri. EGC : Jakarta.


·         Maramis, W.F. 2005. Catatan ilmu kedokteran jiwa. Airlangga : Jakarta.


·         Wikipedia.2011.Autisme. http://id.wikipedia.org/wiki/Autisme. dikunjungi pada Selasa 1 Maret 2011


·         Ircham, Raden.2008.Asuhan Keperawatan Anak Autisme. http://asuhankeperawatananak.blogspot.com/ dikunjungi pada Selasa 1 Maret 2011


·         Ahira, Anne.2009.Seputar Penyakit Autisme. http://www.anneahira.com/penyakit-autisme.htm dikunjungi pada Selasa 1 Maret 2011




·         Danuatmaja, B. (2004). Menu Autis. Jakarta: Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara.


·         Budhiman, M. P. (2002). Langkah Awal Menanggulangi Autisme dengan Memperbaiki Metabolisme Tubuh. Jakarta: Penerbit Majalah Nirmala.


·         Sari, I. D. (2009). Nutrisi Pada Pasien Autis. CDK (Cermin Dunia Kedokteran) , 89-93.


·         Judarwanto, W. (2004). Alergi Makanan dan Autisme. Retrieved November 3, 2010, from Putra Kembara: http://putrakembara.org/fajarid.shtml


·         Wardhani, Y. F. (2008). Apa dan Bagaimana Autisme itu. In Apa dan Bagaimana Autisme; Terapi Medis Alternatif (pp. 1-37). Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.


·         Handojo, Y. (2008). Autismea. Jakarta: PT Buana Ilmu Populer Kelompok Gramedia.


·         Muhardi, A. (2009, November). Autisme. Retrieved November 4, 2010, from Autis.info: http://www.autis.info/


·         Rudy, L. J. (2007). What is the Difference Between ABA, Discrete Trials, dan "The Lovaas Method?". Retrieved November 5, 2010, from http://autisme.about.com/od/treatmentoptions/f/WhatisABA.htm


·         Gamayanti, I. (2003). Aspek Psikologis pada Anak Autis. Temu Ilmiah Dietetik VI. Yogyakarta.


·         Sutadi, R. (2003). Autisme. Konferensi Nasional Autisme Indonesia. Jakarta.